share :

Tiga perempuan muda dari berbagai latar belakang berbeda, Nesia Ardi, Nanin Wardhani, dan Yashinta Pattiasina mencoba bermusik lewat permainan jazz swing dan ragtime. Mengusung nama Nona Ria, mereka memberi warna musik yang berbeda di Indonesia. Mereka memakai pendekatan vintage, dengan pengaruh musical dari era 40 dan 50-an. Nona Ria menyebut Bing Slamet, Ismail Marzuki, juga Sam Saimun sebagai salah satu pengaruh mereka dalam bermusik. David Tarigan, pengarsip musik, menjadi salah satu yang berjasa dalam hal mengenalkan nama-nama musisi lawas Indonesia pada Nona Ria.

Saat awal terbentuk pada tahun 2013, Nona Ria mengusung genre jazz standar dengan membawakan lagu Indonesia zaman dahulu. Namun mereka merasa karakternya kurang kuat. Nona Ria pun memutuskan untuk berubah menjadi lebih terdengar jazz swing dan ragtime. Nuansa zaman dulu dan karakter Nona Ria semakin kuat sejak perubahan itu. Apalagi mereka memakai busana dengan motif sama dan gaya potongan rambut yang juga ‘jadul.’

"Kenapa kami suka vintage, karena kami menemukan banyak keindahan di sana. Musik mereka juga tak lekang oleh waktu. Dari anak tiga tahun sampai oma 80 tahun, semua bisa ikut nyanyi," ujar Nesia. Pada akhir Januar ilalu, Nona Ria pun mengadakan peluncuran album pertama yang diberi judul sama dengan nama band mereka. Ada delapan lagu yang merangkum itu: Salam Nona Ria, Senandung, Hari Bahagia, Sayur Labu, Sebusur Pelangi, Maling Jemuran, Santai, dan Antri Yuk. Masing-masing punya cerita yang seakan sepele, namun sejatinya punya arti. Salah satunya tentang kebiasaan mengantre.

“Kita kan hidup di kota besar, saya yakin orang yang ada di sini pernah mengalami diserobot. Lagu itu mengajak orang untuk antre, kalau bisa jadikarya yang berfaedah,” kata Nanin. Nesia yang merupakan pemain snare sekaligus vocal menambahkan jika album tersebut dibuat sekitar setahun. “Benang merahnya kira-kira musik, masak, dan cerita,” ujarnya. Di tengah pergulatan musis imenciptakan lirik lagu romantis, Nona Ria mencoba menghadirkan sajak-sajak sederhana dan jenaka yang diambil dari kehidupan sehari-hari. Bukan menghindar, namun bagi mereka ada banyak hal indah dari hidup yang bisa 'dihidupkan' menjadi lagu.