share :

Penyanyi Mohammad Istiqamah Djamad alias Is, memulai petualangan baru usai keluar dari Payung Teduh. Perjalanannya kini dikayuh lewat format solo karir bernama Pusakata. Nama Pusakata bukan nama yang rumit untuk diingat oleh banyak orang. Pusakata lebih lekat dengan aksara dan sarat makna. Is memilih nama Pusakata karena tak jauh-jauh dari lingkar kehidupannya.

Pusakata adalah nama yang diberikan anak pertama Is, Jingga kepada adik lelakinya. Pusakata yang berarti ,sebuah kehidupan. Pusakata sendiri bukan sebuah grup musik. Pusakata adalah gagasan Is yang berkolaborasi dengan beberapa pelaku seni menghidupkan sumbu jiwa-jiwa seni untuk tetap menyalurkan ide-ide kreatif. Suara Is yang khas tak menjadikannya sebagai musisi di Pusakata, tapi membuatnya merambah dunia seni yang lain.

Lewat identitas baru, Pusakata akan menjajaki dunia seni yang luas. Dunia seni yang tak hanya sekadar musik, tetapi juga dunia seni peran, lukis, dan elemen dari ilmu berkesenian. Pusakata pun melakukan pertunjukan awal pada awal Januari 2018 kemarin. Tidak hanya manggung, Pusakata juga menghadirkan lagu barunya berjudu l‘Kehabisan Kata’.

Judul itu tentu bukan gambaran perjalan karir Pusakata kini. 'Kehabisan Kata' merupakan judul dari cerita yang dibawakan Is dari naskah berjudul 'Metropole' karya Agnes Purwanti, istrinya. Pusakata menggambarkan latar sore bersama lawan bicaranya. Keduanya menikmati kopi dan the bersama sambil bertukar kata. Semua lirik yang ada di dalam lagu tersebut merupakan hasil tulisan Pusakata. Lirik-lirik syahdu khasnya begitu kental di lagu itu.

Untuk urusan musik, 'Kehabisan Kata' terdengar lebihn geband. Yang menarik, bunyian tradisional membuat lagu tersebut begitu berbeda. Di single ini, Pusakata ternyata tidak bekerja sendiri. Ia ditemani oleh The Panganans yang terdiri Ronald Fristianto (drum), Denny Chasmala (gitar), Sadrach Lukas (keyboard), Adhitya Pratama (bass), dan Eugen Bounty (klarinet).