share :

Musik jazz dipadu dengan tetabuhan dan nafas musik etnik Jawa, barangkali sudah bukan barang baru lagi. Sudah banyak musisi yang memadu-padankan jazz dan bunyi-bunyi pentatonis musik tradisional Jawa.

Lain halnya ketika kita datang ke Kampoeng Djawi. Tidak hanya suguhan jazz dan musik tradisi yang bisa dinikmati. Kita dibuat kagum dengan kentalnya budaya Jawa. Mulai dari musik tradisional yang disajikan, yang dikombinasi dengan aransemen jazz, ornamen panggung, sampai makanan dan jajanan khas Jawa.

Rudi Hermawan founder Kampoeng Djawi mengatakan, kita ingin mwmbangkitkan kecintaan masyarakat terhadap budaya Jawa. Sementara sajian musik jazz yang ditampilkan ditengah-tengah kentalnya nuansa Jawa, tidak ada maksud lain, kecuali sebagai wadah pengembangan apresiasi jazz, sekaligus memberikan tempat yang representatif bagi musisi-musisi jazz lokal. "Kami ingin agar musik jazz bisa berkembang, khususnya di Jombang", kata Rudi Hermawan si pemilik Kampoeng Djawi.

Pada event Jazz Kampoeng Djawi (26 Maret 2016) di Kampoeng Djawi kecamatan Wonosalam Jombang, Rudi mengundang dua komunitas jazz asal Jombang, dan masing-masing satu  komunitas jazz asal Surabaya, Bojonegoro, Ponorogo, Tulungagung dan Yogyakarta plus kedatangan komunitas jazz Kemayoran Jakarta.

Meskipun tidak semuanya mengolaborasikan jazz dan musik tradisional, tetapi penampilan masing-masing komunitas, patut diapreasi lebih. Mereka sangat percaya diri, termasuk ketika memainkan komposisi-komposisi jazz mainstream.

Hadirnya event Jazz Kampoeng Djawi untuk kali kedua tahun ini, sungguh mencerahkan dan memberi harapan besar, berkembangnya jazz di daerah. Sukses kawan-kawan Kampoeng Djawi dan jazz lovers lainnya. (Naskah/ Foto: Isa Anshori)