share :

Konsisten di jalur musik jazz yang anti mainstream, adalah pilihan yang dipertahankan Syaharani. Wanita kelahiran Kota Batu, tepatnya 27 Juli 1971 ini memilih musik jazz yang mampu memuaskan hasrat bermusiknya daripada sekedar jualan.

Mengutip Bintang.com, Syaharani menyebutkkan, dirinya termasuk orang yang tak bisa kompromi soal berkarya. “Aku nggak pernah mau diintervensi ketika mencipta lagu," kata Syaharani, dalam kesempatan preskon Enjoy Jakarta Jazz Festival 2015, di FX Entertainment, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (16/9/2015).

Konsekuensi adanya benturan antara bermusik dengan hati atau jualan dengan selera pasar, disadarinya. Dia mengaku belum siap, sebab itu dia berkarya hanya sesuai dengan keinginnannya saja. Syaharani yakin, soal pasar hanya faktor keberuntungan. Dan hanya menunggu waktu yang tepat saja.

Tugas musisi hanya berkarya dengan sebaik-baiknya. Keyakinan itu yang membawa Syaharani itidak mau mengorbankan musiknya demi kepentingan pasar. "Kalau punya 6 album tapi sama, buat apa? Mending lagu saya dibilang sebagai obat galau, selalu ada cinta. Disukai sama orang-orang daerah, makanya sering diputar. Itu aja sudah senang banget," jelas Syaharani.