share :

Pada perhelatan Asean Jazz Festival, 22-23 Juni 2012 silam, tampaknya menjadi momentum penting dalam eksistensi musik tradisional. Pada momentum tersebut, Angklung ditegaskan sebagai kekayaan Indonesia. Mengutip gosipartisindonesia.info, penegasan itu disampaikan secara terbuka oleh Direktur Festival, Dwiki Dharmawan.

Disebutkan, dalam penampilannya Dwiki melibatkan dua orang musisi dari Saung Angklung Mang Udjo. Berkolaborasi menampilkan beberapa komposisi yang kental jazz. Dihadapan penonton, dan jurnalis, Dwiki mengatakan, “Kita bangga Angklung Indonesia.” Dan disambut tepuk tangan seluruh penonton yang hadir.

Asean Jazz Festival tahun ini dimeriahkan dengan penampilan 50 musisi dari sembilan negara. Dari Asia Tenggara hadir musisi Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Thailand. Selain itu hadir pula musisi dari Eropa dan Amerika Utara. Festival itu digelar di kawasan pelabuhan terpadu Harbour Bay, Batam-Kepulauan Riau. Panitia membuka tiga panggung dengan penampilan para musisi, selama dua malam berturut-turut.

Untuk mengobati penasaran eksotika musik angklung, peminat musik di tanah air bisa menikmatinya lagi nanti pada pagelaran Jazz Traffic Festival, yang akan digelar 24 Nopember 2012, di Grand City Surabaya. BABENDJO (Bambu Band Udjo), kelompok anak muda yang sejak kecil sudah menjadi bagian dari Saung Angklung Udjo (SAU). Band yang berdiri tahun 2010 dan telah berhasil menelurkan album pertama bertajuk “Kau Pilih Caramu” ini, akan unjuk tampil bersama lebih dari 200 musisi jazz lainnya.(lim/M-Comm)