share :

Efek Rumah Kaca, band yang terbentuk di Jakarta 2001 silam ini punya ruang khusus bagi para penggemarnya dengan sebutan Eleniak, untuk fans laki-laki dan Estrada, untuk fans perempuan. Vokal kuat Cholil Mahmud, berpadu laras dengan hentakan drum Akbar Bagus Sudibyo, Adrian Yunan Faisal yang kini lebih banyak mengisi vokal, dan personil baru Poppie Airil pada bass.

ERK, begitu band ini biasa disingkat, terkenal karena mampu mengemas lagu dengan lirik-lirik yang cenderung menyentuh dan memotret keadaan sosial masyarakat, seperti lagu Di Udara yang berkisah tentang Munir, aktivis HAM pada album pertamanya Efek Rumah Kaca (2007). Setahun berselang, album Kamar Gelap lahir. Sempat vakum cukup lama sebelum album Sinestesia rilis di 2015 karena sang vokalis sekaligus gitaris, Cholil harus menyelesaikan studi di Amerika Serikat dan sang bassist, Adrian mengalami penyakit yang menyebabkan penglihatannya hilang.

Diluar album, Efek Rumah Kaca juga menetaskan Pandai Besi. Proyek ini lahir atas inisiatif para personil Efek Rumah Kaca yang bosan membawakan materi lagu-lagu mereka dengan aransemen standar. Mereka menginginkan eksplorasi musikal yang lebih luas, dan hasilnya Pandai Besi lahir dengan musikalitas yang lebih kaya dengan DNA Efek Rumah Kaca.